Sanksi Berat Bakal Dikenakan Untuk Atlet yang ”Ndobel” di Porprov Lampung 2026

DL|Bandarlampung|KONI|09012026

---- Peringatan keras dikeluarkan dari KONI Provinsi Lampung melalui Wakil Ketua Umum (Waketum) II Bidang Pembinaan Prestasi, Riagus Ria, kepada seluruh atlet, pelatih dan pengurus cabang olahraga, dalam rangka mengawal sportivitas olehraga.

Ini dalam kaitannya dengan sering terjadinya ada satu atlet yang membela dua daerah atau bermain di dua cabang olahraga yang berbeda di Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Lampung.

Riagus menegaskan tidak ada toleransi kepada pihak-pihak yang sengaja akan mencederai sportivitas di dunia olahraga Lampung, khususnya pada pelaksanaan Porprov yang dijadwalkan akan berlangsung November 2026, di Bandarlampung.

“KONI Provinsi Lampung tegas akan memberlakukan hukuman yang berat bagi atlet, pelatih dan pengurus cabang olahraga yang melakukan praktik ini. Bukan saja mencederai sportivitas, juga mendidik mental yang sangat buruk kepada atlet. Di Porprov Lampung 2026 nanti harus bersih dari praktik unsportif ini. Kami akan memberlakukan pendaftaran secara online dan verifikasinya ada beberapa tingkatan, sehingga tidak ada kebocoran itu,” tegas Riagus di ruang kerjanya, Jumat 9 Januari 2026.

Sanksi ini, lanjut Riagus akan disosialisasikan saat pertemuan dengan KONI Daerah dan Pengprov Cabang olahraga peserta Porprov nanti, dan secara terbuka akan dilakukan diskusi lebih lanjut.

“Porprov ini ajang prestasi dan ajang seleksi menuju Pra PON. Karena setelah Porprov 2026, maka tahun 2027 sudah masuk masanya Pra PON atau Babak Kualifikasi (BK) PON. Jadi tidak ada celah untuk bermain-main dengan hal itu. Jadikanlah Porprov ini untuk benar-benar menyeleksi atlet cabor yang berkualitas, jangan beranggapan Porprov itu pestanya para atlet dan pelatih, sehingga menghalalkan segala cara,” tambahnya.

Benar, lanjut Waketum II, bahwa pesta olahraga ini untuk atlet dan ajang pembuktian juga bagi pelatih. Tetapi pesta prestasi, bukan pesta yang bertujuan mengejar suatu yang lain.

Hukuman Berat

Lalu apa hukuman yang akan diterapkan untuk para pelanggarnya? Riagus mengatakan bahwa harus ada efek jera yang membuat gaya-gaya itu berhenti sampai di sini.

”Meski masih harus dirembug secara matang, namun gambaran sanksi berat itu sudah pasti. Misalnya, Diskualifikasi secara perorangan atau diskualifikasi secara tim. Bahkan kemungkinan ada sanksinya juga kepada pelatih dan pengurus cabang olahraganya. Sanksi ini bentuk dari pembinaan yang sebenarnya. Karena pembinaan kan bukan hanya latihan dan teknik lainnya, pembinaan secara mental juga jauh lebih penting,” ungkap Riagus.

Seharusnya, lanjut Riagus, seorang atlet tidak mungkin dia akan berbuat nekad seperti itu hanya untuk mengejar sesuatu yang belum pasti, misalnya bonus dan sebagainya.

Bisa terjadi atlet “ndobel”, baik cabang olahraga maupun membela daerah, kalua ada yang membantu dalam urusan administrasinya.

“Maka dari itu seluruh pihak yang terlibat menyusun konspirasi itu harus ditindak. Tidak ada toleransi lagi. Karena ini bagian dari sebuah pelanggaran berat dari sportivitas sebagai atlet,” ungkap Riagus.

Kemudian terkait nomor yang dipertandingkan tetap harus mengacu kepada nomor PON. Jika ada cabang olahraga yang akan mempertandingkan nomor di luar PON bisa menggelar kejuaraan di luar Porprov sebagai kegiatan single event.

“Maka dari itu, jangan ada lagi pemikiran yang harus mempertandingkan 80 nomor atau 100 nomor, sementara di PON hanya dipertandingkan 30 nomor atau 40 nomor. Mari kita patuhi program kita bersama ini agar pembinaan benar-benar bisa menghasilkan atlet prestasi dengan sportivitas dan fairplay,” tutur Riagus. (dop)